Penulis:
Kathleen-Jonathan Kuntaraf
Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa
Roma 3:20
Disamping hukum Allah itu berfungsi untuk mengungkapkan kehendak Tuhan kepada manusia, hukum itu juga merupakan dasar perjanjian Allah dan berfungsi sebagai standar penghakiman. Hukum Allah juga berfungsi untuk menunjukkan dosa. Tanpa Sepuluh Hukum, kita tidak dapat melihat dengan jelas kekudusan Allah, kesalahan manusia ataupun kebutuhan kita untuk bertobat.
Ketika mereka tidak tahu bahwa mereka melanggar hukum Allah, mereka tidak merasakan kesalahan mereka atau kebutuhan mereka akan darah penebusan Kristus. Untuk membantu orang melihat kondisi mereka yang sebenarnya, hukum berfungsi seperti cermin (Yakobus 1 : 23-25). Mereka yang melihat kedalamannya melihat cacat karakter mereka sendiri yang berbeda dengan karakater Allah yang benar. Jadi hukum moral menunjukkan bahwa seluruh dunia bersalah di hadapan Allah (Roma 3 : 9), membuat semua orang sepenuhnya bertanggung jawab kepada-Nya.
“Karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Roma 3 : 20) karena “dosa adalah pelanggaran hukum“”” (1 Yohanes 3 : 4). Memang, Paulus berkata, “Justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa” (Roma 7 : 7). Hukum itu meyakinkan orang-orang berdosa atas dosa mereka, dan membantu mereka untuk menyadari bahwa mereka dikutuk di bahwa penghakiman murka Allah dan bahwa mereka menghadapi hukuman kematian kekal. Ini membawa mereka pada masa ketidakberdayaan mereka.
Disamping menunjukkan dosa, hukum itu juga adalah agen dalam pertobatan. Hukum Allah adalah sarana yang digunakan Roh Kudus untuk membawa kita kepada pertobatan. “Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa” (Mazmur 19 : 7). Disaat, setelah melihat karakter kita yang sebenarnya, kita menyadari bahwa kita adalah orang-orang berdosa, bahwa kita berada di ambang kematian dan tanpa memiliki harapan. Kita sungguh merasakan kebutuhan kita akan Juruselamat. Maka kabar baik Injil menjadi benar-benar bermakna.
Dengan demikian hukum mengarahkan kita kepada Kristus, satu-satunya yang dapat membantu kita melarikan diri dari situasi keputusasaan kita. Dalam terang inilah Paulus menunjuk pada hukum moral dan hukum seremonial sebagai “penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman” (Galatia 3 : 24).
Kiranya Roh Kudus boleh menuntun kita agar kita melihat dosa kita, dan keperluan kita akan Juruselamat. Kita sungguh senantiasa memerlukan Yesus setiap saat.