Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Jemaat Sudiang (GMAHK-Sudiang), berada dalam wilayah pelayanan Konferens Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara.

Keesaan Allah

Penulis:
Kathleen-Jonathan Kuntaraf

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

Ulangan 6 : 4

Masalah ke-Allah-an telah menjadi perdebatan sepanjangan jaman. Namun akhir-akhir ini, perdebatannya telah menjadi makin seru. Apakah kita percaya kepada satu Tuhan? Bagaimana dengan Kristus dan Roh Kudus?


Kita mempercayai akan keesaan Tuhan. Lain dengan bangsa-bangsa lain yang hidup disekitar Israel pada jaman Perjanjian Lama yang mempunyai banyak dewa atau ilah. Bani Israel hanya percaya kepada satu Tuhan (Ulangan 4 : 35; 6 : 4, Yesaya 45 : 5, Zakharia 14 : 9). Perjanjian Baru juga menekankan hal yang sama mengenai kesatuan dari Allah (Markus 12 : 29-32, Yohanes 17 : 3, 1 Korintus 8 : 4-6, Efesus 4 : 5, 1 Timotius 2 : 5). Penekanan monoteistik ini tidak bertentangan dengan konsep Kristen tentang Allah Tritunggal atau Trinitas, yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus, justru ini menegaskan bahwa tidak ada bentuk penyembahan dari berbagai dewa.


Di dalam Alkitab tidak disebutkan mengenai kata Trinitas, namun kita dapatkan kemajemukan dari Ke-Allah-an. Misalnya kata “esa” di dalam Ulangan 6 : 4 berasal dari kata Ibrani, “Echad“, yang berarti kesatuan. Kata yang sama dipakai dalam Kejadian 2 : 24 mengenai Adam dan Hawa, dimana dua orang yang menjadi satu daging, artinya satu kesatuan. Kata “elohim” sendiri yang diterjemahkan menjadi kata Allah dalam bahasa Indonesia adalah dalam bentuk jamak. Disamping itu kadang-kadang Tuhan mengunakan kata “kita” yang berarti jamak, seperti: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kejadian 1 : 26). “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita” (Kejadian 3 : 22), “Baiklah Kita turun” (Kejadian 11 : 7). Kadang-kadang Malaikat Tuhan diidentifikasi dengan Tuhan. Misalnya malaikat yang muncul kepada Musa, dan Ia berkata, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Keluaran 3 : 6).


Alkitab menunjukkan berbagai referensi yang membedakan Roh Tuhan dari Tuhan. Misalnya dalam kisah Penciptaan: “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kejadian 1 : 2). Beberapa ayat tidak hanya mengacu pada Roh tetapi menerangkan bahwa Roh termasuk pribadi ketiga dalam karya penebusan Allah: “Dan sekarang Tuhan (Allah Bapa) mengutus Aku (Anak Allah) dengan Roh-Nya (Roh Kudus)” (Yesaya 48 : 16). “Aku (Bapa) telah menaruh Roh-Ku ke atasnya (Mesias), supaya ia menyatakan hukum kepada segala bangsa” (Yesaya 42 : 1).


Sementara masalah ke-Allah-an adalah suatu rahasia yang tidak dapat kita mengerti, namun kita dapat melihat bahwa setiap kepribadian ke-Allah-an merupakan kesatuan yang perlu kita kenal secara pribadi. Kita perlu mengenal-Nya sebagai Tuhan yang menciptakan, menebus, memelihara dan melindungi kita. Persekutuan dengan Tuhan sajalah yang akan memberikan kepada kita kehidupan yang penuh kemenangan.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *