Penulis:
Kathleen-Jonathan Kuntaraf
Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
Galatia 2:20
Bila Anda adalah seorang Kristen, maka sudah pasti kehidupan Anda harus berbeda dari orang lain bukan ?, Sebab menghidupkan suatu kehidupan Kristen berarti memiliki penyerahan penuh, dimana kita menyerah terhadap diri sendiri dan menerima kehidupan yang bersatu dengan Kristus. Sebagaimana kita lihat Yesus telah berserah dan memberikan diri-Nya bagi kita, demikian pula kita harus menyerahkan diri kita sepenuhnya bagi Kristus.
Mungkin saja kita berpikir bahwa kita sudah membuat satu komitmen penuh, satu penyerahan penuh, namun pertumbuhan rohani kita akhirnya menunjukkan bahwa sesuatu yang terjadi tersebut adalah satu hal yang dangkal. Namun sementara kita mencari area baru dalam kehidupan kita untuk berpaling kepada Allah, komitmen kita akan bertumbuh. Kemudian, dengan begitu lembut, Kristus membawa perhatian kita ke area lainnya dimana kita perlu untuk terus berserah. Jadi kehidupan kita berlanjut melalui serangkaitan komitmen. Kekristenan menjadi lebih dalam lagi dałam kehidupan kita, maupun dalam gaya hidup kita, termasuk bagaimana kita bertindak dan bereaksi.
Ketika kita menyerahkan semua yang kita miliki kepada Allah, yang memang semua adalah miliknya (1 Korintus 3 : 21; 4 : 2), maka Tuhan akan menerima kita. Kemudian Ia akan mengembalikannya kepada kita untuk diatur, sehingga kita dapat menjadi penatalayan yang baik, atau pengurus dari segala sesuatu yang kita miliki, yang sebenarnya adalah hal yang dipercayakan kepada kita untuk dikelola. Menerima tanggung jawab kita sebagai penatalayan Allah akan menghancurkan kecenderungan kita untuk hidup yang egois dan nyaman, dan membuat kita sadar akan teladan abadi dalam penatalayanan yang ditinggalkan oleh Yesus sampai pada tingkat dimana Ia menderita kelaparan, kekurangan, ketelanjangan, dan akhirnya disalibkan sehingga kita tahu tanggung jawab penuh dari penatalayanan terebut. Penatalayanan itu termasuk perintah abadi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku (Matius 28 : 19), yang membuat akitivitas gereja—berbagi, mengajar, berkhotbah dan membaptiskan seseorang menjadi lebih berharga bagi kita. Karena Kristus sajalah, kita dipanggil untuk menjadi penatalayan yang setia.
Semoga kehidupan kita adalah sebagai kehidupan Yesus, jadi bukan lagi kita, tetapi Yesus yang hidup di dalam kita, untuk kemuliaan bagi nama-Nya.