Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Jemaat Sudiang (GMAHK-Sudiang), berada dalam wilayah pelayanan Konferens Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara.

Mungkinkah Kristus Berdosa?

Penulis:
Kathleen-Jonathan Kuntaraf

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa”.

Ibrani 4 : 15

Suatu pertanyaan yang sering ditanyakan adalah: “Mungkinkah Kristus berdosa?”  Banyak orang Kristen yang mempunyai pendapat yang berbeda dalam hal ini. Namun kita sependapat dengan Philip Schaff dalam bukunya The Person of Christ, hal. 35, 36, yang mengatakan, “Seandainya Ia (Kristus) telah dibekali sejak awal dengan keadaan yang tanpa cacat yang mutlak, atau dengan tidak adanya  kemungkinan untuk berbuat dosa, maka ia tidak bisa menjadi manusia sejati, atau model untuk kita teladani kekudusan-Nya, sebab tindakan-Nya dan bawaan-Nya dalam menghadapi pencobaan merupakan pertunjukkan yang semu.” 


Kita juga sependapat dengan Karl Ullmann  dalam bukunya An Apologetic View of the Sinless Character of Jesus, jilid 37, hal. 11, yang mengatakan, “Sejarah pencobaan, bagaimanapun itu dapat dijelaskan, tidak akan memiliki arti, dengan ungkapan dalam surat kepada orang Ibrani,’ia dicobai dalam segala hal seperti kita’, akan menjadi tidak bermakna.” 


Sementara kita melihat bahwa Kristus mempunyai kemungkinan untuk jatuh dalam dosa, kita harus menyadari akan sifat kemanusiaan-Nya yang tanpa dosa. Hal ini disebabkan oleh karena kelahiran-Nya yang supernatural—Ia dikandung oleh Roh Kudus (Matius 1 : 20). Sebelum kelahiran-Nya, Ia digambarkan sebagai yang “disebut Kudus” (Lukas 1 : 35). Ia mengambil sifat kemanusian dalam keadaan jatuh, menanggung konsekuensi dosa, bukan keberdosaan-Nya. Ia satu dalam umat manusia, kecuali dalam dosa.


Yesus “dalam segala hal dicobai seperti kita dicobai, tetapi tanpa berbuat  dosa,” menjadi “yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa” (Ibrani 4 : 15; 7 : 26). Paulus menulis bahwa Ia “tidak mengenal dosa” (2 Korintus 5 : 21). Petrus bersaksi bahwa Ia “tidak berbuat dosa, dan penipuan tidak ada dalam mulut-Nya (1 Petrus 2 : 22), dan membandingkan-Nya dengan “anak domba yang tidak bernoda (1 Petrus 1 : 19). Kemudian kita baca dalam 1 Yohanes 3 : 4-7, dikatakan “Dan di dalam Dia” kata Yohanes, “tidak ada dosa. . . Kristus adalah benar” 


Kita bersyukur oleh sebab walaupun Yesus memiliki kemungkinan untuk berdosa, namun Ia tidak berdosa. Sesungguhnya Yesus adalah yang paling suci dan menjadi  contoh tertinggi bagi manusia. Marilah kita terus memandang kepadaNya sebagai teladan kita.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *